TENTANG MANUSIA TEKNOLOGI SENI DALAM
PERSPEKTIF KESEHATAN DAN AGAMA.
Mungkin sebagian orang
tidak akan mengerti jika hanya membaca judulnya secara sekilas tanpa memahami
secara cermat, dapat dilihat bahwa perkembangan teknologi semakin pesat dan
sangat berpengaruh pada gaya hidup yang ingin serba cepat dan instan, apa lagi
dalam bekomunikasi, mungkin dulu teknologi hanya dianggap sesuatu yang “wah”
dan susah untuk dipelajari, namun untuk sekarang faktanya telah berubah, dari
yang mulanya jarang yang menggunakan karena alasan susah, rumit dan sebagainya
malah sekarang mayoritas telah memiliki teknologi untuk kebutuhan primer bukan
lagi untuk kebutuhan sekunder, pasalnya semua kegiatan sekarang serba bersangkutandengan
teknologi digital, contohnya yang paling berpengaruh adalah pemakaian
smartphone yang makin menjamur dari kalangan anak-anak sampai orang yang sudah
berumur juga memakainya karena tutuntutan era jaman digital, sudah tidak bisa dielak
lagi bahwa kita sudah memasuki era digital dan akan terus berinovasi
menciptakan sesuatu hal yang baru dari masa ke masa.
Namun, dibalik
kesuksesan teknologi yang semakin berkembang, banyak juga permasalahan yang
diciptakan, sebagai contohnya banyak orang yang tak hidup didunia nyata akan
tetapi hanya berfokus pada dunia maya, mereka berpendapat bahwa di dunia maya
mereka bisa bebas mencari informasi tak terbatas dan menjelajahi tanpa ada
ujungnya, mempunyai semua akun sosmed itu mungkin sebagai hal wajid yang harus di
penuhi dan orang-orang yang tak bisa meninggalkan dunia maya beralasan karena
merekahanya memiliki teman di dunia maya, akibatnya orang tersebut menjadi
malas untuk bersosialisasi dengan orang lain secara langsung, mereka sudah
nyaman dengan teman-temannya yang berada di dunia maya, mudahnya teknologi
terutama alat komunikasi yang di gunakan maka sulit jabat tangan di lakukan
tergantung bagaimana manusia selaku konsumen bisa menyikapinya dengan cerdas,
semua ada positif dan negatif tergantung bagaimana manusianya akan memilih.
Perkembangan teknologi juga
sudah mempengaruhi budaya kita juga, tadinya masyarakat kita yang ramah tamah
senang mengobrol, ngumpul, gotong royong dan lainnya, kini mendadak mereka
semua menghadap ke smartphone nya masing-masing, mereka membuat lingkungan
menjadi apatis atau acuh tak acuh dengan lingkungan nyatanya, mereka lebih
senang bercerita, mengeluh, dan meluapkan semuanya melalui dunia maya. Namun,
semuanya itu tetap memiliki nilai positifnya sekarang dalam kehidupan manusia
baik secara sadar ataupun tidak.
Dampak dari teknologi
terhadap budaya adalah informasi yang diperoleh dapat langsung di publikasikan,
memudahkan kita dalam belajar karena sudah banyak teknologi yang mendukung,
hubungan antar masyarakat bisa berlangsung dimana saja dan kapan saja walaupun
dalam zona waktu dan tempat daerah yang berbeda, sosialisasi pemerintah lebih
cepat sampai kepada masyarakat, masyarakat lebih memiliki rasa percaya diri
karena mereka tak tampil secara langsung, masyarakat dapat mempublikasikan
budaya mereka sampai keseluruh negara di dunia.
Bidang lain seolah
dipaksa untuk ikut berkembang bersama, tidak hanya dalam bidang teknologi informasi
tapi juga bersangkutan dengan kemajuan teknologi, awalnya mungkin bidang seni
tidak diambil pusing dengan teknologi, karena tidak terlalu sebagai kajian
khusus, seperti pemikir asal jerman, Walter Benjamin menulis sebuah artikel
berjudul “Work Of Art In The Age Of Mechanical Reproduction” pada tahun 1935.
Pada artikel ini Benjamin menyoroti perkembangan teknologi yang mampu
memproduksi karya seni sedimikian rupa sehingga karya seni tersebut menjadi
kehilangan aura.
Reproduksi karya seni
membuat karya seni, yang tadinya diagungkan karena orisionalitas dan
keautentikannya, menjadi menurun nilainya karena mampu difabrikasi. Dalam
konteks hari ini ketakutan Benjamin terbukti misalnya dengan kita dapat melihat
lukisan karya Van Gogh atau music karya Beethoven lewat internet secara
gratis.Terlebih lagi jika diurut ke belakang terutama seni, punya akar kata
yang mirip dengan teknologi. Di masa Yunani kuno, seni sering disebut juga
dengan techne atau disamakan dengan keterampilan. Teknologi sendiri mengandung
kata techne yang artinya juga melibatkan semacam aspek keterampilan untuk
mencapai suatu tujuan yang biasanya terkait dengan kepentingan-kepentingan manusia.
Persamaan akar kata ini
seolah tidak diungkit-ungkit lagi dalam perkembangannya, terutama ketika
peradaban telah merasuki masa modern. Teknologi seolah-olah menjadi wilayah
kajian ilmu pengetahuan alam yang mensyaratkan objektivitas, akurasi dan hukum
berfikir yang ketat. Sementara itu, seni menjadi murni persoalan intuisi,
subjektivitas dan ukuran-ukurannya cenderung relative berbasiskan pengalaman.
Kenyataan bahwa dunia
konteporer seni tidak bisa membicarakan teknologi hanya lewat pandangan biasa sebagai
produk sains semata, teknologi tidak lagi berdiri sebagai satu entitas yang
independen dan terpisah dari aspek-aspek kehidupan yang lain.Hubungan masalah
ilmu, agama dan budaya akan berkaitan dengan posisi akal dalam sistem ajaran
agama. Dalam ajaran Islam, hampir seluruh perintah dan larangan dalam Al-Qur’an
sesungguhnya selalu disinggung latar belakang akalnya, sehingga dapat diterima
oleh manusia. Berikutnya, Al-Qur’an di banyak tempat juga memberi posisi khusus
perbuatan sadar manusia yang terus berkembang akhirnya membentuk suatu format
kebudayaan.
Perkembangan ilmu
pengetahuan di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki
kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan
transportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat. Tapi di sisi lain, tidak
jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan
martabat manusia. Di sinilah peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat
penting untuk memberi ruh atau spirit berbagai kehidupan sosial dalam
pengembangan ilmu dan kebudayaan berdasarkan kaidah dan prinsip-prinsip ajaran
agama. Kehidupan manusia kemudian merupakan proses pembentukan suatu tata kehidupan
sebagai realisasi ajaran agama tersebut.
Pola hubungan agama
dengan ilmu, melihat terdapat empat pola hubungan, yaitu pola hubungan pertama
adalah pola hubungan yang negatif, saling tolak. Apa yang dianggap benar oleh
agama dianggap tidak benar oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula
sebaliknya. Dalam pola hubungan seperti ini, pengembangan iptek akan menjauhkan
orang dari keyakinan akan kebenaran agama dan pendalaman agama dapat menjauhkan
orang dari keyakinan akan kebenaran ilmu pengetahuan.
Pola hubungan ke dua
adalah perkembangan dari pola hubungan pertama. Ketika kebenaran iptek yang
bertentangan dengan kebenaran agama makin tidak dapat disangkal sementara
keyakinan akan kebenaran agama masih kuat di hati, jalan satu-satunya adalah
menerima kebenaran keduanya dengan anggapan bahwa masing-masing mempunyai
wilayah kebenaran yang berbeda. Konflik antara agama dan ilmu, apabila terjadi,
akan diselesaikan dengan menganggapnya berada pada wilayah yang berbeda. Hubungan
seperti ini, pengembangan iptek tidak
dikaitkan dengan penghayatan dan pengamalan agama seseorang karena keduanya
berada pada wilayah yang berbeda.
Pola ke tiga adalah pola hubungan netral. Dalam pola
hubungan ini, kebenaran ajaran agama tidak bertentangan dengan kebenaran ilmu
pengetahuan tetapi juga tidak saling mempengaruhi. Kendati ajaran agama tidak
bertentangan dengan iptek, ajaran agama tidak dikaitkan dengan iptek sama
sekali. Mendukung ajaran agama tapi ajaran agama tidak mendukung pengembangan
iptek, dan ajaran agama mendukung pengembangan iptek dan demikian pula
sebaliknya.
Pola hubungan yang ke empat adalah pola hubungan
yang positif. Terjadinya pola hubungan seperti ini mensyaratkan tidak adanya
pertentangan antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan serta kehidupan
masyarakat yang tidak sekuler. Secara teori, pola hubungan ini dapat terjadi
dalam tiga wujud, ajaran agama mendukung pengembangan IPTEKS tapi pengembangan
iptek tidak mendukung ajaran pengembangan ilmu agama.
Sementara itu, hubungan agama dengan budaya. Istilah
agama maupun religi menunjukkan adanya hubungan antara manusia dan kekuatan gaib
di luar kekuasaan manusia, berdasarkan keyakinan dan kepercayaan menurut paham
atau ajaran agama. Agama sukar dipisahkan dari budaya karena agama tidak akan
dianut oleh umatnya tanpa budaya. Agama tidak tersebar tanpa budaya, begitupun
sebaliknya, budaya akan tersesat tanpa agama.
Ajaran agama ketika disandingkan dengan nilai-nilai
budaya lokal di era desentralisasi dapat diserap untuk dijadikan pengangan
kehidupan bermasyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan diberikannya otonomi
khusus kepada Aceh yang dikenal dengan Nanggroe Aceh Daussalam. Agama dan
budaya di NAD sudah melebur dan tidak bisa dipisahkan sejak dahulu, ketika
kerajaan Islam masih ada di wilayah tersebut. Dengan otonomi khusus ini hokum
pidana Islam kembali dihidupkan sehingga masyarakat merasakan keadilan sesuai
dengan keyakinannya. Hal ini menjadi awal yang baik dalam menciptakan
kesejahteraan masyarakat dengan mengangkat agama dan budaya yang ada di masyarakat
tersebut. Pada masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi leluhurnya,
perilaku keagamaan juga memberikan dampak yang cukup berarti.
Jika dilihat dari aspek kesehatan menurut WHO (World
Health Organization), sehat adalah “Memperbaiki kondisi manusia, baik jasmani,
rohani ataupun akal, sosial dan bukan semata-mata memberantas penyakit”.
Islam telah meletakkan kaidah-kaidah ilmu kesehatan
secara luas dan lengkap, namun pengobatannya tidak secara rinci. Tidak ada
aturantentang dosis obat dalam Al-Qur’an, akan tetapi Rasul mengidentifikasi
obat-obatan seperti madu, cantuk (hijamah), dan himyah (menghangatkan badan)
yang digunakan sebagai metode terapi. Motivasi Islam dalam menghormati para
ahli medis sangat tinggi. Ketika Rasulullah sakit, beliau memanggil dokter
untuk mengobatinya. Aisyah ra berkata:
ِْ الَ ُ هَ ل
ُتْ عَ نَ تَ ف ِ مَجَ عْ الَ و ِ بَ رَ عْ
ال ِ هْ يَ لَ عُ دْ فَ ت ْتَ انَ كَ فِ هِ
رْ مُ عَ رِ آخ ِ ِ للَُّ مَ قْسَ ي َ انَ ك ِ
اللَّ َ لْ وُ سَ ر َّ نَ ا ا َِ بُِ هُ لِ اجَ عُ ا ُتْ نُ ك َ و َ اتَ عْ
ن
“Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengadu sakit pada
akhir umurnya kepada Allah, sedang tidak ditemukan seorang tabib baik dari Arab
ataupun Ajam, maka aku pun mendeteksi penyakitnya dan mengobatinya”.
Dari realitas ini, kita meyakini bahwa Islam telah
meletakkan kaidah ilmu kesehatan dalam ajarannya. Akan tetapi aturan-aturannya
tidak dijelaskan secara rinci, karena Al-Quran bukan seperti buku kedokteran
dan bukan termasuk dalam ranah risalah agama.
Dalam landasan agama islam yaitu pada Al Quran pun
juga terdapat tutunan atas hal ini yaitu pada surat AL Baqarah ayat 164, sialah
yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya untuk keperluan manusia. Sudah
seharusnya manusia memperhatikan dan merenungkan Rahmat Allah yang Maha suci,
karena dengan begitu akan bertambah yakinlah ia pada kekuasaan yang keesaan
Nya, akan bertambah luas pulanya ilmu pengetahuannya mengetahui alam ciptaan
Nya dan dapat pula dianfaatkanya ilmu pengetahuan itu sebagaimana yang
berkehendaki oleh Allah Yang Maha mengetahui. Hendaklah selalu diperhatikan dan
diselediki apa yang tersebut dalam ayatini yaitu bumi yang dihuni manusia yang
tersimpan di dalamnya tidak akan pernah habis baik darat maupun laut. Langit
dengan planet dan bintang-bintangnya semua berjalan dan bergerak menurut tata
tertip dan aturan ilahi. Tidak ada yang menyimpang dari aturan-aturan itu
pertukaran malam dan siang dan perbedaan panjang dan pendeknya pada beberapa
negeri karena perbedaan letaknya, kesemuanya itu membawa faedah dan manfaat
yang amat besar bagi manusia. Bahtera berlayar di lautan untuk membawa manusia
dari satu negeri ke negeri yang lain dan
untuk membawa barang-barang perniagaan
untuk perniagaan untuk memajukan perekonomian Allah SWT menurunkan hujan dari
langit sehingga dengan air hujan itu bumi yang telah mati atau lekang dapat
menjadi hidup subur dan segala macam hewan dapat pula melangsungkan hidupnya. Pengendalian
dan pengisaran angin dari suatu tempat ke tempat yang lain adalah tanda dan
bukti bagi kekuasaan Allah dan kebesaran Rahmat Nya bagi manusia. Demikian pula
harus dipikirkan dan diperhatikan kebesaran nikmat Allah kepada manusia dengan
bertumpuk-tumpuknya awan antara langit dan bumi. Ringkasnya, semua rahmat yang
diciptakan Allah termasuk apa yang disebutkan di ayat 164 ini patut dipikirkan
dan direnungkan bahwa dibahas dan di teliti untuk meresapkan keimanan yang
mendalam dalam kalbu, dan untuk memajukan ilmu pengetahuan yang juga membawa
kepada pengakuan akan keesaan dan kebesaran Allah.
Kesimpulannya IPTEKS hakikatnya adalah alat yang
diberikan kepada manusia untuk mengetahui dan mengenal rahasia-rahasia alam
ciptaan Allah sebagai khalifah Allah di bumi dalam rangka pengabdian total
kepada Allah SWT, kita sebagai manusia hanya bisa memanfaatkan. Begitu juga keutamaan
mempelajari ilmu kesehatan mempertebal keimanan, mendapatkan kebaikan dan pahala, terbebas dari
penyimpangan akidah, mempertebal rasa syukur, dan mempunyai jiwa sosial yang
tinggi. Jika kita bisa memadukan semuanya kedalam satu susunan yang tepat dari
perspektif kesehatan dan agama dimasukan kedalam imteks dan di dalamnya termuat
unsur-unsur budaya lokal, maka akan tercipta sinergi baru yang akan
menghasilkan suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan saat ini.
Nice kak. Sangat bermanfaat. Lanjutkan! :)
BalasHapusJos gandos mb
BalasHapusMantab bahasanya dan perlu di kembang kan lagi.....never give up moga sukses selalu
BalasHapusGooad job sobat
BalasHapusGood nak🤣
BalasHapusMantUlll... Lanjutkan..
BalasHapusGood beb
BalasHapusSiipp, semangat ya lanjutkan semoga bermanfaat
BalasHapusSubhanallah.... Koncokuuhhh... Semangat berjuang
BalasHapusGood job daa
BalasHapusGood👍
BalasHapusBagus. Lanjutkan
BalasHapusMantep atuh
BalasHapusmantap bosku
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusNice, tata bahasanya sudah baik, dan pembahasannyapun tidak berbelit belit
BalasHapusBagus sekali... Sangat membantu😊
BalasHapusAlhamdulillah bermanfaat, lanjutkan😊
BalasHapus